07 Juni 2013

Resensi Buku: Ekologi Marx; Materialisme dan Alam



Annas*

 

Judul Buku          : Ekologi Marx, Materialisme dan Alam
Penulis               : John Bellamy Foster
Penerjemah        : Pius Ginting
Penerbit             : Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)
Tahun                 : 2013
Tebal Buku          : 284 Halaman
Ukuran                : 22.5 Cm x 15.5 Cm
No. ISBN             : 978-602-18675-1-8


Konsepsi

Manusia, beraktivitas untuk mempertahankan hidupnya dengan melakukan kerja, agar kebutuhan hidup terpenuhi. Aktivitas kerja manusia sangat bergantung dari apa yang ada pada alam: air, udara, kayu, laut, tumbuhan, api, angin, arus sungai/laut, panas bumi, gunung, mineral, tambang, dsb. Karena itulah, hubungan manusia dan alam haruslah hubungan yang baik dan berkelanjutan, karena manusia adalah makhluk yang bisa menciptakan apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, mengolah apa yang disediakan alam. Sehingga, inter-relasi  manusia dan alam dinyatakan oleh Doug Lorimer sebagai “Pengaruh alam atas manusia semuanya terjadi secara spontan, tapi pengaruh masyarakat pada alam selalu sebagai hasil dari aktivitas manusia demi kehidupannya, yang dilakukannya secara sadar. Di samping memang bertujuan merubah alam, aktivitas manusia juga memperoleh hasil-hasil yang tak terbayangkan sehingga, dalam banyak kasus, kemudian menyebabkan manusia kehilangan banyak hal”.

Darwin(isme) dan Marx(isme)

Adalah dua arus pemikiran penting yang akan dibahas dalam buku ini meski, Darwinisme lebih banyak dielaborasi hanya dalam wilayah sains-biologisme dan sosial ekstrim yang dibongkar kemudian oleh dialektika materialisme alam yang non-mekanis, non-reduksionis sehingga, meletakkan proses alam, biologisme dan implikasi sosialnya dalam konteks dialektis. Namun begitu, konsepsi dialektika alam Marx banyak dipengaruhi oleh Darwin dimana keduanya sedikit banyak saling dipengaruhi filsafat alam materialis klasik seperti Epicurus. Konsekuensi logis dari Darwin(isme) terhadap filsafat materialis Marx benar-benar penting untuk dimaknai. Bahwa, kata Foster, antara mahluk hidup dan alam memiliki inter-relasi (saling-hubungan) yang tidak otonom namun, merupakan sebuah satu-kesatuan antara dialektis.

Selain itu, masih dalam buku ini, kita tidak bisa melarikan diri dari bangunan filsafat Materialisme Marx dan, tentunya, jangan terburu-buru pula ber-apriori terhadap asal muasal azali penciptaan alam yang banyak dijelaskan oleh sains ketimbang penjelasan yang bersifat ilahiah, meski hal ini memang belum cukup membuktikan sebesar apa kasih sayang Marx terhadap ekologi seperti yang dikatakan kaum ekologis. Namun, berangsur-angsur, anggapan tersebut sepertinya mulai pudar dengan datangnya pembelaan dari ahli geografi Italia, Massimo Quaini dalam bukunya Geography and Marxism, kepada Marx yang menyatakan bahwa “Marx… mengecam perampasan alam sebelum nurani ekologis borjuis tumbuh”. Karena, konsepsi alienasi juga muncul ketika manusia melakukan aktifitas kerja, karena perilaku manusia terhadap alam (dalam konsep kapitalisme) dipandang hanya sebagai hubungan pemanfaatan untuk nilai tukar ekonomis (akumulasi modal).

Menjawab intepretasi bahwa Marx kurang perhatian kepada Ekologi

JB Foster bisa menjadi orang pertama yang sangat menolak dan menentang intepretasi tersebut karena, menurut Foster, Marx begitu peduli lingkungan, dibuktikan dengan menulis tentang Krisis Ekologi dan Langkah Penanggulangannya, juga mendorong adanya diskursus ekologi dalam Grundrisse dan Manuskrip Tentang Ekonomi dan Filsafat. Tentu itu saja belumlah cukup.

Mula-mula Marx berkenalan dengan realita ekologi.
Seperti ketika awal Marx merasa karir akademiknya tidak bisa diharapkan lagi seiring dengan direpresinya seluruh unsur Hegelian Muda radikal di Prussia. Saat itu, jurnalisme adalah pilihan berikutnya dari situasi yang menempa Marx. Rheinische Zeitung adalah Koran besar provinsi dimana Marx menjadi redakturnya. Isu pertama yang dia tuliskandi Koran adalah tentang perdebatan hukum atas pencurian kayu. Yang kemudian Marx mengembangkan analisa tentang penghapusan hak-hak tanah atas petani kecil yang sebelumnya disebut sebagai Tanah Bersama. Perangkat undang-undang tersebut muncul seiring dengan pertumbuhan industri dan menguatnya gagasan sistem kepemilikian pribadi. Padahal, ketika itu petani kecil secara tradisional memanfaatkan hutan dengan mengambil kayu mati dan pohon tumbang untuk perapian dan memasak, hingga para tuan tanah akhirnya melarang bahkan sekedar berburu atau melintas hutan, secara hukum, petani kecil tersebut bisa dijerat dengan pasal pencurian, hukumannya sama dengan pencurian kayu hidup. Perampasan hak ulayat rakyat semakin banyak disebabkan munculnya kebutuhan dari para pemilik hutan untuk memberikan “nilai” pada hutannya karena kini sudah terdapat pasarnya.

Marx semakin meruncingkan kontradiksinya antara hak petani kecil dan pemilik tanah, hingga disimpulkan telah terjadi monopoli pemilik hutan atas tanah. Para “pencuri kayu”, karena kesalahannya, sesuai undang-undang, dijatuhkan hukuman dengan melakukan kerja paksa kepada pemilik tanah. Semakin untunglah pemilik tanah, memiliki pekerja tanpa diupah untuk mengolah tanahnya, dan ini, sekali lagi, dilindungi oleh hukum negara borjuis.

Marx terus mengkonfrontasikan tentang keberpihakan undang-undang yang makin condong kepada kaum pemilik tanah. Kemudian Marx menyimpulkan benar, bahwa, manusia miskin/tak bertanah (oleh system kepemilikan pribadi dan industri kapitalis) dihapuskan segala hubungannya terhadap alam, dipaksa diputuskan hubungannya dengan alam, bahkan hanya sekedar mempertahankan hidup.

Sampai kemudian Marx menemukan gagasan dari Justus Von Liebig, seorang ilmuwan Tanah abad 19 penulis Metabolic Rift atau Jurang Metabolis yang menyebabkan adanya dislokasi ekologis sehingga pedesaan dijadikan wilayah untuk menopang industrialisasi. Dari gagasan Justus Von Liebig lah, Marx mendapatkan perspektif tambahan dalam pertarungannya dengan Malthus dan David Ricardo tentang perdebatan teoritik Tanah dan Sewa. Lebih lanjut lagi, Foster mengajak kita menjadi seorang pecinta lingkungan hidup yang menolak ide-ide “antroposentris” dan “ekosentris”, bahwa, inti masalahnya lebih mengacu pada interaksi hubungan antara manusia dan alam, bagaimana kita mengatur hubungan kita dengan alam. Kita harus mengetahui kandungan instrinsik alami bumi dan tentu saja berusaha melindunginya. Tetapi kita juga perlu memahami bahwa kita tidak dapat memungkiri fakta, kita telah merubah alam selama kita hidup dan bekerja dalam bumi ini. Sampai tahap ini, tujuan utama kita seharusnya adalah merubah alam tanpa merusaknya, membuat peraturan hubungan kita dengan alam. Dengan begitu, kita jangan sampai jatuh seperti kaum anti-positivis Marxisme barat yang memusuhi ilmu pengetahuan (tehnologi). Namun tidak juga dalam semangat over-positifnya Uni Soviet yang begitu memuja ilmu pengetahuan (tehnologi) sehingga menempatkannya dengan cara yang salah. Di sinilah, analisis ekologis jadi salah kaprah, di satu sisi, ilmu pengetahuan mekanis tidak memberikan ruang untuk manusia, di sisi lain hermeneutis, adalah tradisi humanistik menolak ilmu pengetahuan.

Alienasi Manusia dan Alam

“Universalitas Manusia”, kata Marx, adalah kunci dari keterasingan manusia. Dalam Early Writings, Marx paling baik menjelaskan tentang alienasi (keterasingan) manusia buruh. Menurutnya, pertama adalah manusia (buruh) terasing dari obyek pekerjaannya, kedua, proses kerjanya, ketiga, keadaannya sebagai spesies manusia, dan keempat, keterasingannya dari sesama manusia lain. Begitulah hubungan manusia dan alam menurut Marx, sebagai satu-kesatuan tak terpisahkan ketika manusia melakukan aktivitas kerja pemenuhan kebutuhan. Disebutkan juga bahwa “…alam merupakan badan inorganic manusia karena alam bukanlah badan manusia, namun manusia hidup dari alam sehingga secara fisik dan mental, terhubung dengan alam, sederhananya, alam berhubungan dengan dirinya sendiri karena manusia bagian dari alam”.

Kita membutuhkan materialisme, yang lebih rasional, yang memandang permasalahan ekologis dengan imbang dan menggalang kepedulian untuk mengatasi krisis lingkungan serta kebutuhan mempertahankannya dilihat dari perspektif ekonomi-politik. Sampai pada tahap ini, Marx adalah salah seorang pemikir yang meletakkan prinsip-prinsip dasar materialisme tipe tersebut, maka, pemikirannya masih sangat penting bagi kita.

Darwin dan Marx bertemu dengan pandangan Teologi Alam

Persinggungan antara Evolusi dan Teologi Alam begitu penting dan banyak dibahas dalam Autobiography-nya Charles Darwin karena, saat dimana Darwin mengambangkan teorinya yang materialis, Natural Theology (Teologi Alam) William Paley sedang tumbuh subur-suburnya dimana prasangka ilahiah menjadi argument yang lebih berpengaruh ketimbang materialisme dan perspektif evolusionernya Darwin. Terhadap Natural Theology, Darwin mengomentari bahwa itu merupakan “argument tua tentang desain alam” terlebih sejak “hukum seleksi alam ditemukan”.

Bertemu pula Darwin dengan aliran Naturalisme Pendeta yang lain seperti Thomas Malthus dan pengikutnya, Thomas Chalmers. William Palley banyak mengadopsi gagasan Malthus dalam karya Natural Theology. Yang paling mendapat tempat dalam gagasan Palley adalah teori Malthus tentang Populasi (Essay on Population) yang mengatakan bahwa “populasi penyebab dari kurangnya sarana bertahan hidup (subsistensi)”, meskipun, populasi tersebut merupakan “takdir dari rancangan penuh kasih pemeliharaan ilahiah”. Gagasan dari kedua aliran Naturalisme Pendeta tersebut (William Paley dan Thomas Malthus) kemudian dibukukan oleh Thomas Chalmers, didanai oleh Bangsawan Inggris dari Bridgewater bernama Henry Egerton. Dan inilah upaya terbesar abad 19 dalam membangun dominasi teologi alam atas dunia intelektual di semua bagian.

Naturalisme Pendeta dan Teologi Alam tak berkutik di hadapan sistem Kepemilikan Pribadi (Kapitalisme)

Bahkan William Paley sekalipun mengakuinya. Abad 18 dalam karyanya berjudul Principles of Moral and Political Philosophy (Prinsip Moral dan Filsafat Politik), Paley terus mempertahankan hubungan kepemilikan yang ada, meski dimengerti bahwa itu tidak alamiah dan tidak adil. Kepemilikan semacam itu, meski bukan sebagai anugerah alam tapi oleh otoritas sipil, sebaiknya diperlakukan sebagai sesuatu yang tidak boleh dilanggar, tidak terbuka opsi untuk pengambil-alihan sebab, sudah ada “penunjukan oleh sorga”. Karena, lanjut Paley, “dunia penuh dengan rancangan” namun, “rancangan tersebut diarahkan untuk maksud baik”. Kemudian diterimalah pandangan bahwa makin bertambah populasi, bertambah pula kebahagiaan masyarakat meskipun lambat-laun populasi dibatasi oleh persediaan makanan seperti dikatakan dalam teori Malthus tentang Populasi yang akhirnya merubah secara drastis pemikiran Paley. Sejak munculnya artikel tanpa nama yang mengusulkan lebih konkrit tentang prinsip populasi yaitu, jika populasi tidak dibatasi maka ia akan bertambah secara deret geometri (1, 2, 4, 8, 16, 32, dst) sedangkan ketersediaan kebutuhan hidup hanya bertambah secara deret aritmatika (1, 2, 3, 4, 5, 6, dst). Konsekuensinya adalah, pembatasan alami tertentu atas lonjakan populasi agar ketersediaan sarana kebutuhan hidup (subsistensi) bisa mencukupi. Namun, pembatasan alami ini sederhananya berupa penderitaan atau kekejaman. Pembatasannya dibagi dua, preventif (membatasi kelahiran) dan positif (menambah jumlah kematian).

Jika diamati, jalan keluar dari Teologi Alam semakin kabur dan jauh dari realitasnya, inilah yang menyebabkan Marx menilai bahwa jalan keluarnya haruslah menggunakan metode materialis-dialektik yang berkaitan dengan sejarah awalnya, agar solusinya tidak jatuh menjauh dari inti problematikanya yaitu alam dan kepemilikan pribadi atas hutan dan hasil produksinya.

Kritik kepada Malthus

Teori paling destruktif dan kasar yang pernah ada di bumi adalah teori Malthus maupun Malthusianisme. Sembarangan dan barbar. Teori yang disusun untuk menekan manusia menerima kekerasan hukum ekonomi-politik, penuh keputus-asaan. Teori Populasi Malthus dijawab oleh Engels dengan mengembangkan penjelasan mengenai “tentara cadangan industri” atau surplus relative pekerja yang menjadi bagian dari konsep ekonomi-politik Marxian. Kesalahan Malthus menurut Engels adalah ketika Malthus menegaskan bahwa “terlalu banyak manusia yang ada yang bisa dipertahankan dari alat-alat subsistensi yang ada”, namun, kata Engels, “bukan over populasi yang diperbandingkan dengan persediaan makanan/alat subsistensi yang ada tapi, over populasi dibandingkan dengan lapangan pekerjaan”. Tentara cadangan industri (pekerja yang menganggur) telah ada sepanjang waktu, banyak atau sedikitnya tergantung seberapa besar pasar mendorong keberadaan lapangan kerja. Dengan begitulah surplus populasi muncul.

Dari sini pula konsep tentang proletariat hadir ketika Marxisme menjadi oposisi Malthusian. Dijelaskan lebih lengkap oleh Engels dalam artikelnya tentang Kondisi Kelas Pekerja Inggris dimana seolah-olah kita dibukakan mata bahwa jurang pemisah kemiskinan dan gemerlapnya dua kelas sangat dalam, situasinya seperti terpisah ribuan tahun. Antara kaum pekerja di Manchaster (yang kumuh, penuh kelaparan dan penyakit) dengan kaum borjuis di Manchaster (yang tinggal di Villa atas bukit dan segala fasilitasnya).

Kondisi kumuh, penyakit, udara, limbah dan dampak lingkungan di kawasan industri sangat mendapat perhatian Engels hingga dia mengumpulkan data dari dokter, ahli dan pengamatannya sendiri kemudian memberikan analisis rinci tentang kesehatan publik. Dari segala polusi itulah, penyakit yang ditimbulkan adalah kelainan tulang, mata, keracunan timbal dan penyakit paru-paru hitam. Selain itu, tingginya angka kematian akibat Tuberculosis dan Tifus.

Metabolisme: proses pertukaran material, pertumbuhan dan pembusukan biologis

Marx memakai metabolisme sebagai konsep untuk menggambarkan hubungan manusia terhadap alam melalui proses kerja. Karena kerja adalah “…proses manusia dan alam dimana melalui aksinya sendiri, memediasi, meregulasi dan mengontrol antara dirinya sendiri dengan alam…menghadapi material alam sebagai kekuatan alam. Dia (proses kerja) adalah kondisi universal bagi interaksi metabolis antara manusia dan alam, syarat kekal yang diterapkan oleh alam bagi keberadaan manusia” (Capital, Vol I).

Dalam Bab V buku ini, konsepsi di atas menstimulasi Marx dalam mengajukan kritik teoritisnya atas tiga prinsip ekonomi-politik borjuis yaitu: analisis ekstraksi surplus produksi dari produsen secara langsung, teori kapitalis tentang sewa tanah, dan teori Malthusian yang mengaitkan keduanya. Lebih jauh lagi, akan mengkritik juga tentang kerusakan alam dimana kritik tersebut telah mendahului pemikir-pemikir ekologi sekarang, secara analisa, kritik Marx akan agrikultur kapitalis melalui dua tahap, (1) kritik atas Malthus dan Ricardo, (2) pertimbangan mengenai revolusi kedua agrikultur terkait teori kimia tanah Justus von Liebig yang mengharuskan Marx menganalisa kondisi yang mendasari hubungan berkelanjutan terhadap bumi.

Seperti pendapat kebanyakan menyangka pemahaman teori sewa tanah yang dimiliki Marx berawal hanya dari David Ricardo, padahal, menurut JB Foster, pengertian sewa-tanah yang didapat Marx lebih menguggulkan James Anderson, seorang ahli ekonomi-politik Scotland karena Ricardo gagal memahami perkembangan historis budidaya tanah.

Tentang sewa tanah, menurut Anderson, merupakan sebuah ganti rugi/biaya untuk penggunaan tanah lebih subur. Tanah, yang paling tidak subur, untuk penanaman, hanya menghasilkan pengganti biaya produksi. Sedangkan, tanah yang lebih subur menerima premi tertentu bagi hak eksklusif penanamannya. Besar kecilnya premi tergantung kesuburan tanahnya. Premi inilah yang kemudian disebut sebagai Sewa. Dalam aspek lain, tuntutan revolusi agricultural mengemuka seiring banyaknya pemakaian pupuk kimiawi. Ketiga tahap revolusi agrikultura  dikemas Liebig dan Marx dengan singkat melalui proses budidaya tanah masyarakat yang diseret oleh perkembangan ekonomi-politik. Pada revolusi pertama, dalam proses beberapa abad yang gradual, ditandai dengan munculnya pengaplingan tanah dan pemusatan pasar; perubahan taknis dalam pemupukan dengan kotoran binatang (beriringan pula muncul manajemen peternakan), rotasi tanaman dan saluran air. Berkebalikan dengan pertama, revolusi agricultural kedua (1830-1880) merusak tatanan tanah sebelumnya dengan bertumbuhnya industri pupuk dan kimia tanah. Ketiga, pada abad 20, penggantian tenaga hewan oleh mesin, pemisahan manajemen ternak terhadap pemupukan hingga menjadi otonom, pengubahan generika tanaman/bibit dan penggunaan asupan kimia lebih massif—penggunaan pupuk kimia ditambah dengan pestisida.     

Terjadilah kerusakan tanah (penurunan kualitas tanah) yang menyebabkan sepanjang abad 19 isu kesuburan tanah menjadi mengemuka dalam masyarakat kapitalis Eropa dan Amerika Utara. Setelah itu, yang muncul adalah isu polusi di perkotaan. Isu tersebut menjadi kehawatiran luas masyarakat ditambah dengan naiknya permintaan pupuk (kimia) menambah kepanikan atas kesuburan tanah. Fenomena nyata bisa dilihat dari kotoran burung yang diimpor dari Peru pada tahun 1835. Tahun 1841 sebanyak 1.700 ton dan 220.000 ton pada 1847 (Lord Ernie, English Farming Past and Present).

Dalam situasi-situasi tersebut, makin menegaskan bahwa konsep metabolisme Marx mempunyai pengaruh atas alienasi manusia dan alam seperti yang ditulisnya dalam Grundrisse dimana “bukanlah kesatuan kemanusiaan yang hidup dan aktif dengan yang alami, kondisi-kondisi non-organik pertukaran metabolic mereka dengan alam, dengan demikian penguasaan mereka akan alam yang butuh penjelasan, atau hasil proses historis, tapi lebih pada keterpisahan antara kondisi-kondisi non-organik eksistensi manusia ini dan eksistensi aktifnya, pemisahan yang secara penuh hanya ditampilkan dalam relasi kerja upahan dan capital”.

Pemikiran Marx tentang Darwin: relasi kerja manusia terhadap evolusi manusia

Setahun setelah The Origin of Species terbit, Marx baru mempelajari secara serius karya Darwin. Hingga dalam suatu kesempatan, Marx bercerita kepada Lassale mengatakan bahwa Darwin telah memberikan basis sains bagi perjuangan klasmeski dengan segala kekurangannya, Darwin secara langsung memukul teleology dalam sains alam dengan penjelasan rasional dan empiris.



Meski tidak secara detail, Marx mengungkapkan adanya relasi Seleksi Alam dan survival of the fittest ke dalam perjuangan klas. Dalam Capital Vol. I, ditemukan jawabannya. Marx membuat teori singkat tentang hubungan teori Darwin dengan perkembangan sejarah manusia lewat perubahan produksi dan tehnologi. Perbandingan terhadap Darwin, disetujui oleh Marx bahwa perkembangan organ-organ yang terspesialisasi dalam tumbuhan dan binatang dengan peralatan yang terspesialisasi sesuai dengan bagaimana proses manufaktur bersejarah melipatgandakan penerapan-penerapan kerja, mengadaptasikannya terhadap fungsi eksklusif dan khusus masing-masing jenis pekerjaan buruh (terpisahkan oleh pembagian kerja).

Sejarah hanya dapat dilihat dari dua sisi: alam dan manusia

Untuk selanjutnya, setelah kematian Marx, Engels-lah yang paling berperan meneruskan gagasannya. Makin melapangkan hubungan antara Marxisme, Alam dan filsafat materialis agar memahami alam secara dialektis dalam konsep materialis alam dan materialis sejarah. Sehingga, Engels pun dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya memandang penting makna filsafat Epikurus yang menurut Marx, dialah penemu keterasingan tertanam dalam konsep manusia dengan alam melalui doktrin religi.

Beberapa catatan

Di atas segalanya, Foster merupakan pemikir yang memberikan sumbangan atas kehausan kaum hijau dari perspektif materialis dimana konsepsi inter-relasi manusia dan alam menjadi kunci untuk lolos dari antroposentrisme dan ekologisme. Terlebih, kaum hijau sekarang banyak yang belum mengarah pada transaksional program politik dalam memanfaatkan alat negara secara mandiri sebagai taktik menyelamatkan lingkungan.

Hal itu pula sekaligus sebagai input bagi Foster untuk lebih mengelaborasi tentang bagaimana ke depan penyelamatan alam disukseskan oleh pemerintahan yang ekologis. Lainnya, perlu dikonkritkan apa saja faktor yang mempengaruhi pemikiran perjuangan klas (kemajuan tenaga produktif) Marx terhadap Darwin dalam perspektif ekologi (gerakan) politik. Agar terjawab juga tuduhan kepada Sosialisme sebagai penyumbang kerusakan alam karena dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pemenuhan produksi bahkan dikuatkan dengan konsentrasi tenaga produktif untuk mengolah alam. Meskipun pada tahun 2004 (setelah penerbitan bukunya pertama kali) Foster memberikan pandangan bahwa program yang diemban sosialisme adalah pen-sosialisasian-alam, bermakna: semakin kita menempatkan alam dalam perlindungan manusia melalui proses demokratik yang menentukan aturan ketahanan alam, keadaan akan membaik. Jika kita memandang kekayaan alam sebagai kapital, kita membiarkan kontrol dan eksploitasi alam berada di tangan perseorangan yang dapat merusak ketahanan alam.

Seruan-seruan konfrontasi kepada sistem kepemilikan pribadi (apalagi kapitalisme dalam berproduksi tidak menyiapkan keberlanjutan kehidupan) harus dimuarakan dalam rangka perjuangan sosialisme mengonkritkan capaian masyarakat yang akan kita tuju: asosiasi produsen. Sedangkan, kontradiksi manusia dan alam bukanlah berwatak fundamental, meski begitu, pertentangan dengan alam akan terus ada, tinggal bagaimana manusia menyiasati reaksi spontan alam kepada makhluk hidup.

John Bellamy Foster


Penutup

Buku ini memiliki kekuatan mewariskan tradisi ekologis bagi perjuangan mengembalikan manusia dari pengasingan kapitalis kepada alam. Menyediakan diskursus bagi perkembangan teori ekologi dan filsafat, terutama dalam menghancurkan doktrin idealis kaum borjuis yang menjual-belikan alam untuk kepentingan kepemilikan individu (komoditifikasi alam).

Lalu, “menjadi hijau sama pentingnya dengan menjadi merah”!

* Anggota Partai Pembebasan Rakyat
* Koordinator Departemen Pendidikan dan Propaganda Kolektif Nasional Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional 
* Voulentir Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)

0 Komentar:

Poskan Komentar

Galeri Karya

Tugas perjuangan pembebasan nasional adalah menghancurkan musuh rakyat di bawah ini:

Total Tayangan Laman

Cari Di Blog Ini

Memuat...

propaPOSTER

propaPOSTER
Bebaskan rakyat Papua!