Tentang Kami

Foto Saya
Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) bertujuan: Membangun Gerakan Mahasiswa dan Persatuan yang Berkarakter Kerakyatan, Mandiri, Demokratis, Ekologis dan Feminis untuk Persatuan Pembebasan Nasional.

Program Perjuangan Mahasiswa

25 Desember 2011

Sikap Politik PEMBEBASAN untuk Warga Bima

Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional
(PEMBEBASAN)








Jln. Tebet timur III J No. 1B, Jakarta Selatan.
Kontak person:085647735175/085696708285. 
Email: kn.pembebasan@gmail.com
Webblog: www.pembebasan-pusat.blogspot.com

PERNYATAAN SIKAP

Hentikan kekerasan militer terhadap rakyat Lambu, Bima!
Hentikan Aktifitas Pertambangan PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN) hingga tuntutan rakyat Lambu, Bima terpenuhi!
Seret, Adili, dan penjarakan para pelaku penembakan beserta perwira tingginya!
Berikan Kesejahteraan Pada Rakyat!
Hentikan Pemerintahan Kapitalis-Militeristik!

Salam Pembebasan Nasional !

Kali ini perlawanan rakyat masih terus terjadi, reaksi Negara lagi-lagi melebihi batas kemanusiaan. Rakyat kembali menjadi korban penembakan aparat kepolisian. Apa sebenarnya yang melandasi kekuatan aparat semakin brutal? Apa yang menjadi dasar massifnya fungsi aparat dalam menghadapi perlawanan rakyat? Pertanyaan di atas merupakan kunci untuk memahami darimana asalnya aparat militer bisa melampaui batas-batas kemanusiaan, membunuh rakyat dan menjadi garda terdepan pelindung setia investasi.

Hubungan integral antara militer dan Negara (baca: Negara borjuis) berkonsekuensi mengesampingkan peran rakyat sipil (non-militer), sehingga, peran angkatan bersenjata sangat tergantung dan disesuaikan oleh peran Negara (borjuis) dalam melancarkan kepentingan regulasi ekonomi-politik Negara. Secara historis, militer Indonesia diasuh dan dibesarkan oleh pendidikan ideology kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang; sejak dibentuknya KNIL (tentara kerajaan Belanda) dan PETA (Jepang di bawah pimpinan Kaisar Hirohitto).

Meningkatnya perlawanan rakyat merupakan konsekueni (berbanding lurus) atas kegagalan Negara dan kapitalisme dalam mensejahterakan manusia.

Pembunuhan aparat kepolisian dan tentara terhadap rakyatnya masih berlangsung. Kali ini menimpa rakyat Lambu kabupaten Bima, NTB. Protes rakyat Lambu yang sudah berlangsung sejak Januari lalu. Rakyat yang sedang menuntut kesejahteraan selalu berhadap-hadapan dengan moncong senjata dan peluru, bahkan kehilangan nyawa selalu ada di pihak rakyat. Insiden kekerasan Negara yang menyebabkan kematian merupakan bahaya serius dari kebangkitan militerisme. Kita sedang dibimbing kembali ke masa dimana kekuatan militer memegang dominasi penuh atas kontrol aktifitas masyarakat. Ong Hok Kham dalam statementnya (ketika pemerintahan Soekarno jatuh) memperingatkan kepada gerakan mahasiswa waktu itu bahwa: “…kediktatoran militer jauh lebih berbahaya ketimbang kediktatoran sipil”. Namun kini, elite-elite politik telah memiliki kemmapuan untuk mengelabuhi rakyat. Ketika tentara berhasil didepak gerakan rakyat menjauh dari parlemen (tahun 1998) dan kesadaran rakyat sudah mengarah pada anti-militerisme, ketika itu pula peran social-politik tentara berkurang meskipun komando teritorialnya masih ada dimana-mana. Dengan situasi tersebut, sekarang ini, baik itu rezim sispil maupun mliter telah berani terbuka mengandalkan kekuatan bersenjata untuk melancarkan kekuasaannya. SBY misalkan, mampu mengelabuhi rakyat dengna cara mem-purnawirawan-kan diri dari kemiliterannya untuk menjadi penguasa negeri ini, namun, watak-watak militerismenya tak bisa dihilangkan darinya. Termasuk juga ketika rezim Megawati berkuasa, meskipun orang sipil, namun kebijakan-kebijakannya sangat represif terhadap rakyatnya, militerisme masih menjadi watak kekuasaan pemerintahan kapitalistik.

Bentuk-bentuk perlawanan Rakyat yang sedang menuntut agar aktifitas pertambangan dari perusahaan PT. SMN tidak menghilangkan lahan rakyat Bima yang mayoritas nelayan dan petani oleh beberapa pihak diselewengkan menjadi isu SARA. Hal tersebut merupakan upaya penghilangan substansi dari perlawanan rakyat. Rakyat yang menunutut Negara dan korporasi-lah inti dari kemarahan warga karena hak-hak rakyat tidak diberikan oleh Negara dan diserobot oleh perusahaan tambang. Hingga kini, menurut catatan WALHI, ada 103 kasus konflik tambang yang merugikan rakyat. Di Bima, menurut data yang ada mencatat bahwa telah jatuh 4 korban tewas dan 8 luka-luka terkena peluru tajam aparat polisi dan TNI. 

Dari situasi di atas, dimana militerisme masih menjadi watak utama pemerintahan SBY-Boediono dan pemerintahan-pemerintahan kapitalis berikutnya, maka, kekuasaan akan selamanya bertindak represif ketika kehendak rakyat berseberangan dengan kehendak investasi. Bentrokan-bentrokan antar kelas akan terus terjadi selama belum ada penaklukan atas kelas mayoritas (proletar) kepada kelas minoritas (borjuis).

Pergolakan rakyat di Mesuji, Tiaka, Papua, Batam, dll harus selalu kita dukung untuk semakin meluaskan solidaritas atas siapapun yang melawan Negara dan korporasi sebagai alat untuk menyatukan perlawanan dan mengarahkan radikalisme pada perubahan yang mendasar, menyerang dasar-dasar hidup kapitalime. Unbtuk itu, kami dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) menuntut:

1.       Hentikan kekerasan (militerisme) terhadap rakyat Lambu, Bima, NTB.
2.       Seret, Adili dan Penjarakan pelaku penembakan beerta perwira-perwira tingginya yang memberikan instruksi.
3.       Hentikan kegiatan pertambangan sampai tuntutan rakyat Lambu, Bima terpenuhi.
4.       Negara harus memberikan kesejahteraan pada rakyat.
5.       KOMNAS HAM jangan hanya memberikan rekomendasi, tapi lakukan desakan kepada pihak internasional bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di Bima dan seluruh wilayah Indonesia. Mengawal dan mengusut tuntas kejahatan HAM di Bima dan seluruh wilayah Indonesia.
6.       Bebaskan warga Lambu, Bima yang ditahan, berikan hak-hak warga yang mayoritas petani dan nelayan.
7.       Berhentikan Kapolri, Kapolda NTB dan Bupati Bima.
8.       Persatuan gerakan rakyat untuk melawan militerisme dan kekerasan Negara.

Salam Juang !
Terus Berkobar !

Jakarta, 26 Desember 2011

Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional
(PEMBEBASAN)

Ketua Umum
Mutiara Ika

Sekjend
Sutrisno Bandu

0 Komentar:

Poskan Komentar