Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional
(PEMBEBASAN)
Jln. Tebet timur III J No. 1B, Jakarta Selatan.
Kontak person:085647735175/085696708285.
Email: kn.pembebasan@gmail.com
Webblog: www.pembebasan-pusat.blogspot.com
PERNYATAAN SIKAPPergolakan (kemarahan) rakyat, represifitas dan pemerintahan anti rakyat miskin.
Salam Pembebasan Nasional !
Setidaknya, peristiwa-peristiwa yang muncul di media massa telah banyak Menggambarkan terjadinya radikalisasi rakyat. Segala latar belakang identitas sosial dari masyarakat bawah, di banyak tempat, menunjukkan adanya sikap protes, marah, putus asa, melawan pemerintahan, dll. Tuntutan pemenuhan kehidupan ekonomi-lah yang melandasi mereka untuk bergerak Dan menuntut, dengan banyak metode; pendudukan wilayah publik, lahan pertanian, penutupan jalan, hingga bakar diri.
Radikalisasi rakyat (hingga dalam bentuk/metode yang paling maju) merupakan respon terhadap kondisi (ekonomi-politik) yang sedang berlangsung. Digambarkan oleh Horace M Kallen (dalam teori radikalisasi) menjelaskan bahwa radikalisasi ditandai oleh tiga kecenderungan, yaitu; 1. Radikalisasi merupakan respon terhadap kondisi yang sedang berlangsung, 2. Adanya upaya mengganti tatanan yang ada dengan tatanan lain yang digagasnya, dan 3. Kuatnya keyakinan kaum radikal terhadap program atau ideologinya.
Rentetan-rentetan tragedi anti kemanusiaan, anti demokrasi, kekejaman, pengabaian hak rakyat, dll lah yang mendasari munculnya statement ini.
Rupanya, "pengorbanan terbaik manusia Indonesia" (mengambil istilah kawan Sarinah) yang dilakukan Sondang Hutagalung masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Padahal, pesan pengorbanan tersebut merupakan hasil dari pemotretan sebuah realita bahwa pemerintahan kapitalis SBY-Boediono Dan borjuasi Indonesia lainnya telah mengabaikan hak-Hak dasar manusia.
Pergolakan rakyat dilihat dari sejarahnya merupakan faktor utama dari perubahan sistem pemerintahan, termasuk di Indonesia. Kini, bukannya sadar, rezim neoliberal ini malah semakin brutal Dan biadab. Dari Papua, pemogokan buruh PT Freeport yang menuntut kenaikan upah malah dijawab pemerintah dengan penembakan oleh aparat keamanan hingga jatuh korban yaitu kawan Petrus Ayamiseba. Berlanjut ke Batam, ribuan buruh FSPMI yang menuntut upah juga direpresi aparat. Di dalam kampus, mahasiswa yang berjuang menuntut dihentikannya komersialisasi pendidikan Dan hak demokrasi pun dipukul aparat Dan dikejar hingga ke kos-kosan, seperti yang terjadi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bahkan 5 mahasiswa disekap dan dipukuli hingga babak belur. Tak cukup itu saja, demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa UBK Jakarta di Jalan Diponegoro juga diserang aparat, 10 mahasiswa ditangkap satuan Polres Jakarta Selatan Dan dipenjara di Polda Metro Jaya, salah satunya Adalah kawan PEMBEBASAN Jakarta, Hidayat Rumagiar. Di Lampung, para petani Dan warga juga dibunuhi aparat Dan milisi bentukan perusahaan sawit PT Silva InHutani. Bahkan, beberapa warga ada yang disembelih, digantung Dan dipukuli hingga tewas.
Kebiadaban negara dengan aparatnya demi melindungi korporasi dan orang-orang super kaya melebihi batas kemanusiaan.
Secara ekonomi-politik, Indonesia sejak lama telah telah berjalan di atas sistem neoliberal yang mengutamakan kehidupan bagi investor, patuh Dan tunduk kepadanya. Oleh karena itu, Keputusan politik negara merupakan keputusan investasi. Yang paling mudah dilakukan adalah mengintervensi UU-nya, misal; kini Ada banyak UU ataupun RUU yang akan dimenangkan Dan dijalankan untuk mempermudah aturan main pasar investasi. RUU Perguruan Tinggi (untuk membisniskan pendidikan), UU Intelijen (meleluasakan aparat dalam mengontrol ruang gerak rakyatnya), Revisi UU 13/2003 tentang ketenaga kerjaan (berisi: PHK tak perlu ijin, penghapusan pesangon, kenaikan UMK 2 tahun sekali, perluasan outsorching), UU Pengadaan Lahan, Dan banyak lagi.
Makin banyak pelanggaran yang dilakukan negara kepada warganya, makin dilemahkan potensi perlawanan rakyat, sementara, investasi (karena krisis) makin butuh keleluasaan mengendalikan negara (termasuk Indonesia) maka, situasi tersebut harus menjadi tolok-ukur gerakan bahwa ternyata, musuh revolusi makin keras menindas perlawanan rakyat, bahwa kekuatan negara borjuis makin merepresi kesadaran manusia untuk melawan dan memiskinkannya.
Dari peristiwa-peristiwa pergolakan perjuangan rakyat yang selalu dilumpuhkan Dan direpresi negara yang terjadi seperti: pembantaian petani di Mesuji, genosida rakyat Papua, penembakan buruh PT Freeport, penyerangan terhadap demonstrasi buruh (FSPMI) di Batam, penyekapan dan pemukulan 5 Mahasiswa di UMY (Yogyakarta), penangkapan 10 mahasiswa UBK (Jakarta), dll, harus sanggup dijadikan sebagai peringatan bahwa kebutuhan untuk penyatuan serangan menjadi penting dalam platform yang demokratik, radikal Dan ideologis.
Maka kami, Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) hendak mengajak seluruh unsur yang memiliki kehendak perubahan Dan memiliki komitmen berkontribusi untuk revolusi (pembebasan nasional) baik itu serikat pekerja, gerakan mahasiswa, organisasi petani, komunitas-komunitas, akademisi/intelektual Dan praktisi revolusioner, organisasi pemuda, kelompok-kelompok diskusi, dll, untuk menggelorakan keberanian rakyat, memperbanyak panggung perlawanan, meluaskan kesadaran maju. Terimakasih.
Salam Juang !
Semoga Berkobar !
Tegakkan Demokrasi Sejati
Bangun Persatuan, Berani dan Militan;
Berjuang untuk Pembebasan Nasional !
Jakarta, 16 Desember 2011
Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional
(PEMBEBASAN)
Ketua Umum
Mutiara Ika
Sekjend
Sutrisno Bandu


0 Komentar:
Poskan Komentar